Budidaya Tanaman Porang: Tumbuhan Umbi yang Kaya Akan Manfaat

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai tanah subur dan terdapat ragam tanaman yang tumbuh. Dari segi iklim serta lingkungan, tak heran kenapa banyak tanaman bisa tumbuh dengan suburnya di sini.

Berkat kekayaan alamnya, budidaya tanaman pun menjadi salah satu mata pencaharian sekaligus komoditi ekspor yang menguntungkan bagi masyarakat serta negara.

Budidaya tanaman porang merupakan jenis tanaman yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat karena ragam manfaatnya. Seperti apakah tanaman porang? Simak artikel berikut ini.

Mengenal Tanaman Porang

Porang, dikenal juga dengan nama Iles-iles, coblok atau nama latin Amorphophallus muelleri. Tanaman berjenis umbi-umbian ini sering dimanfaatkan untuk kesehatan maupun sebagai bahan baku makanan.

Coblok awal mula ditemukan di India tepatnya Kepulauan Andaman, kemudian menyebar ke Myanmar, Thailand, sampai akhirnya ke Indonesia. Budidaya tanaman porang ini bisa di mana saja, seperti di tepian sungai.

Bentuk tanaman tersebut mirip dengan kentang namun ukurannya jauh lebih besar, dapat tumbuh di dataran rendah hingga dataran tinggi dengan suhu berkisar 25-35 derajat celcius. Tanaman ini banyak ditemukan sekitar pulau Jawa.

Ciri fisik dari tumbuhan tersebut adalah bentuk daunnya lebar berwarna hijau muda dengan ujungnya yang runcing, kulit batang halus berwarna belang hijau-putih, terdapat “bubil” pada cabangnya, dan serat kekuningan yang halus.

Pemanfaatan Porang

Iles-iles ternyata mempunyai banyak manfaat baik sebagai obat, bahan baku makanan, bahkan lem. Apa saja bentuk pemanfaatannya?

1. Bahan Makanan

Dari budidaya tanaman porang dapat menghasilkan beragam jenis makanan dengan kandungan karbohidrat serta gizinya yang baik. Tanaman tersebut setelah panen sering kali diolah menjadi tepung.

Kemudian, tepung tersebut bisa dimanfaatkan untuk bahan pembuatan kue, kosmetika, agar-agar, tahu, roti, bahkan lem. Coblok menjadi komoditi ekspor ke Jepang sebagai bahan pembuat mi shirataki.

Dalam pembuatan es krim juga tak lepas dari manfaat umbi-umbian tersebut sebagai emulsifier atau pengental adonan dari kandungan konjac, sehingga es krim tidak mudah meleleh.

2. Kesehatan

Selain diolah menjadi bahan makanan, Amorphophallus muelleri  juga punya manfaat dalam mencegah berbagai penyakit seperti kolesterol tinggi, kanker usus besar, kencing manis, kardiovaskular, dan sebagainya.

Adapun pemanfaatan lain dalam kesehatan adalah porang dijadikan bahan pembuat kapsul obat. Tanaman yang punya kandungan lem tersebut dijadikan perekat pada kapsulnya.

Kandungan serat yang terbilang tinggi dapat dijadikan sebagai menu diet, cemilan dan penurun kolesterol tinggi.

3. Industri

Cat, perekat kertas, katun serta wol juga menggunakan porang sebagai bahan baku tambahan. Terutama kandungan konjac yang dapat memberikan kualitas kertas lebih bagus meski harganya lebih ekonomis.

4. Membersihkan Air

Pemanfaatan lain dari budidaya tanaman porang yakni dijadikan sebagai bahan untuk membersihkan/memurnikan air yang telah tercemar.

Umbi-umbian coblok mengandung glukomann yang dapat membantu dalam membersihkan air juga keloid pada gula, bir, atau minyak. Glukomann mudah larut di air dan mampu memurnikan dengan sendirinya.

Sehingga untuk memurnikan air, masyarakat tak perlu mengandalkan obat-obatan kimiawi yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan.

5. Bahan Ramah Lingkungan

Bahan baku pembuatan suatu produk biasanya tak lepas dari bahan kimia yang kurang ramah lingkungan. Dengan adanya pemanfaatan iles-iles dapat membantu dalam menjaga lingkungan dari pencemaran kimia.

Cara Pembudidayaan

Bagi yang ingin mencoba budidaya tanaman porang ada beberapa hal yang mesti diperhatikan sebelum mulai penanaman.

1. Lokasi Menanam

  • Penanaman dapat dilakukan di tanah apapun, akan tetapi untuk hasil maksimal lebih disarankan di tanah gembur yang hanya mempunyai kadar keasaman 6-7.
  • Ketinggian dataran untuk menanam mulai 0-1000  mdpl.
  • Usahakan tempat menanam dinaungi pepohonan di sekitarnya seperti jati, mahoni.

2. Teknik

  • Iles-iles dapat ditanam dengan cara vegetatif atau generatif dalam kurun waktu selama empat tahun lamanya.
  • Setelah empat tahun baru tumbuh bunga dan menghasilkan biji, kemudian biji-biji tersebut disimpan dan ditanam kembali ketika musim penghujan tiba.

3. Cara Menanam

  • Memilih lokasi yang terdapat pepohonan.
  • Membersihkan area tanam dari gulma, kemudian dibajak.
  • Membuat lubang berjarak sekitar 25 x 50 cm.
  • Tiap lubang diisi oleh sekam dan pupuk kompos.
  • Penanaman budidaya tanaman porang dapat langsung dengan umbinya.
  • Apabila menggunakan bijinya, lebih baik dibibitkan terlebih dulu menggunakan polybag.
  • Waktu menanam yang baik adalah ketika musim penghujan.

4. Waktu Panen

  • Waktu panen iles-iles tergantung dari jenis mana yang digunakan. Jika umbi, biasanya panen mulai tujuh bulan, sedangkan bibit dimulai 18-24 bulan.
  • Cara untuk memanen porang yakni digali, sama seperti tanaman umbi pada umumnya.
  • Kualitas yang dihasilkan bergantung dari kadar air. Semakin kadar air yang dimiliki porang, harganya semakin mahal.

Kandungan Tanaman Porang

Budidaya tanaman porang sedang naik daun sebab kandungan yang terdapat dari tanaman ini, diantaranya mengandung karbohidrat, serat, vitamin, Glucomann, kalsium, asam amino, protein, lemak, zat besi.

Dengan berlimpahnya kandungan baik dalam sebiji porang, hal tersebut menjadikan umbi ini mulai makin banyak dibudidayakan di daerah Jawa.

Kenapa Porang Banyak Dipilih?

Ada beberapa alasan mengapa porang banyak dipilih untuk dijadikan sebagai budidaya tanaman porang, berikut diantaranya.

  • Penanaman mudah dan tidak memakan banyak biaya.
  • Dapat dimanfaatkan dan diolah untuk keperluan berbagai sektor.
  • Komoditi pasar ekspor yang besar, banyak dibutuhkan negara lain.
  • Punya kandungan yang baik terlebih bagi kesehatan.
  • Syarat penanaman cocok dengan iklim di Indonesia.
  • Lokasi menanam bisa di mana saja, bahkan hampir se-Indonesia.
  • Tak perlu menanam kembali umbinya.

Keuntungan Besar dari Budidaya Porang

Selain budidaya belut yang mempunyai keuntungan besar dalam dunia bisnis, budidaya tanaman porang juga menjadi salah satu tanaman yang bisa mendatangkan keuntungan terutama di pasar ekspor.

Tanaman tersebut kini makin populer dan sering diekspor, salah satunya ke Jepang. Di Jepang sendiri porang dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan mi.

Mi shirataki, jenis mi yang sedang populer dan dikonsumsi oleh banyak orang karena kandungan serat serta karbohidratnya lebih baik dibandingkan dengan bahan baku tepung gandum biasa. Mi tersebut sering dijadikan menu diet.

Berkat naiknya kepopuleran umbi-umbian tersebut, memberikan keuntungan tersendiri bagi para petani budidaya tanaman porang terutama yang telah diolah menjadi tepung. Para petani bisa meraup penghasilan besar mencapai miliaran Rupiah.

Disamping Jepang, ada negara Tiongkok yang menjadi importir umbi-umbian untuk dijadikan bahan obat, adapun negara lain yang sering menjadi tujuan ekspor yakni Korea, Taiwan, Australia dan beberapa negara lain.

Bahkan total ekspor iles-iles di tahun 2018 mencapai 254 ton dengan nilai yang diraup mencapai 11 miliar Rupiah.

Pengolahan porang dalam bentuk tepung banyak ditemukan di sekitaran pulau Jawa seperti Bandung, Maros, Wonogiri, Pasuruan, dan Madiun.

Itulah pembahasan mengenai budidaya tanaman porang yang ternyata punya banyak keunggulan walaupun cara tanamnya tidak membutuhkan banyak biaya juga syarat khusus.

Anda tertarik untuk membudidayakannya?

Artikel Terkait