Apa Itu Daftar Saham Blue Chip

Daftar Saham Blue Chip –¬†Saham Blue Chip selalu menjadi incaran para investor saham. Pembeli saham yang berniat untuk memiliki saham dalam jangka panjang pastinya akan memilih membeli saham blue chip ini. Namun belum tentu dengan para trader yang berburu capital gain yang cenderung mencari saham yang lebih fluktuatif pergerakan harga sahamnya dalam jangka pendek, guna diperjualbelikan. Selain itu ada juga daftar saham dengan kriteria lain yang berbeda seperti saham lq45 serta saham syariah dan lain sebagainya.

Apa itu Saham Blue Chip

Saham blue Chip BEI (Bursa Efek Indonesia) merupakan saham lapis satu, yakni saham perusahaan yang reputasi nasional dan kualitasnya baik, pemimpin pasar pada industrinya, dan memiliki daya tahan dalam berbagai situasi ekonomi yang cukup handal, bisa tetap stabil dalam kondisi ekonomi yang buruk. Saham first liner ini memiliki kapitalisasi pasar atau market capitalization yang besar, di kisaran 10 hingga 40 triliun Rupiah, sehingga saham blue chip yang merupakan saham lapis satu itu mampu menjadi pendorong utama IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan). Secara berkala BEI akan menerbitkan daftar saham blue chip tersebut.

Asal Usul Istilah Blue Chip

Istilah blue chip tersebut dalam sejarahnya diawali dari suatu permainan poker. Terdapat beragam warna chip pada permainan poker yang memiliki nilai masing-masing. Chip berwarna putih nilainya 1 dollar AS per chip, lalu chip yang warnanya merah setara dengan 5 USD, sedangkan chip dalam warna biru atau yang disebut sebagai blue chip memiliki nilai yang paling tinggi. Membeli saham blue chip adalah keputusan yang tepat dan aman karena bisa memberi keuntungan yang stabil dalam jangka panjang.

Ciri-ciri Saham Blue Chip

Berikut ini ciri-ciri saham blue chip tersebut.

1. Pemimpin serta pemain lama pada sektor industrinya

Biasanya Saham blue chip merupakan pemain lama, yang menjadi pemimpin pasar atau market leader pada sektor industrinya. Perusahaan yang telah beroperasi sejak puluhan tahun lalu dan telah terdaftar di BEI minimal 5 tahun lebih.

2. Nilai kapitalisasi pasar yang besar

Saham blue chip lapis satu mempunyai kapitalisasi pasar yang besar, di atas 10 triliun Rupiah, sehingga bisa menjadi penggerak IHSG dan juga indeks LQ45.

3. Likuiditas tinggi

Saham blue chip juga tinggi likuiditasnya. Mudah dijual dan laris di pasaran. Saham emiten yang beredar di Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa dimiliki oleh publik. Saham blue chip biasanya juga memiliki stakeholder yang beragam di kalangan publik, sehingga diharapkan memiliki kontrol yang lebih baik. Harga saham blue chip tersebut tidak mudah digoreng ataupun dimanipulasi.

4. Sering membagi Dividen

Sebab pendapatannya stabil, maka perusahaan saham blue chip biasanya kerap membayar dividen dengan secara konsisten dan nilainya pun cenderung stabil, bahkan makin naik.

5. Kinerjanya baik dan positif

Perusahaan yang sahamnya masuk kategori saham blue chip memiliki kinerja yang bagus dikelola dengan manajemen yang bagus dan mampu bertahan saat ekonomi sedang dalam kondisi kritis sekalipun, selalu bertumbuh dan sering untung dan tidak memiliki hutang atau kalaupun ada hanya sedikit jumlahnya. Laporan keuangannya wajar bukan hasil manipulasi.

6. Harga Saham Tinggi

Dengan berbagai keunggulannya tersebut maka tak heran jika harganya pun tinggi dan jarang turun. Makanya rajin pantau kondisi pasar, begitu turun harganya segera beli, dan tak semua saham blue chip itu mahal harganya, ada yang masih cukup terjangkau.

Daftar Saham Blue Chip

Daftar saham blue chip selalu dicari para investor saham yang hendak membeli saham. Bahkan Daftar Saham Blue Chip 2020 pun masih banyak dicari guna dijadikan sebagai bahan pertimbangan. Secara rutin dan berkala BEI akan menerbitkan daftar saham yang masuk dalam kategori sebagai saham blue chip. Berikut beberapa saham blue chip per September 2021 yang memiliki kapitalisasi di atas 10 triliun Rupiah sesuai kriteria BEI.
PT Bank Central Asia Tbk. BBCA, dan
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. BBRI, dan
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. TLKM, dan
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. BMRI, dan
PT Astra International Tbk. ASII, dan
PT Bank Jago Tbk. ARTO, dan
PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. TPIA, dan
PT Unilever Indonesia Tbk. UNVR, dan
PT H.M Sampoerna Tbk. HMSP, dan
PT DCI Indonesia Tbk. DCII

Beda Saham Blue Chip dengan LQ45

Saham blue chip sering dianggap sama dengan saham LQ45 padahal ada perbedaannya. Saham LQ45 merupakan 45 saham yang masuk kategori indeks LQ45, yakni yang aktif diperdagangkan dan terutama memiliki likuiditas yang tinggi selain memiliki kapitalisasi pasar yang besar, serta didukung oleh fundamental yang baik. Bisa dikatakan saham lq45 adalah saham-saham yang sedang populer di pasar dan banyak serta sering diperdagangkan, dengan likuiditas yang tinggi, meski bukan merupakan saham blue chip. Saham blue chip pasti masuk indeks saham lq45, tapi belum tentu saham yang likuid itu pemimpin pasar di industrinya. Bisa cek di Daftar Saham Blue Chip LQ45 tidak selalu saham LQ 45 adalah juga saham blue chip.

Saham Blue Chip Syariah

Selain itu ada pula double kriteria lain, yakni

Daftar Saham Blue Chip Syariah 2020, yaitu ada Charoen Pokphand Indonesia, dan AKR Corporindo, dan Adaro Energy dan Waskita Karya, dan Indocement Tunggal Prakarsa dan Aneka Tambang, dan Barito Pacific dan Indah Kiat Pulp & Paper, dan Indofood Sukses Makmur dan Bank BTPN Syariah dan Vale Indonesia, serta XL Axiata. Saham-saham tersebut memenuhi kriteria sebagai saham blue chip sekaligus memenuhi kriteria juga sebagai saham syariah. Saham perusahaan yang lolos kriteria sebagai saham syariah tersebut adalah yang pendapatan dan keuntungan utamanya telah memenuhi prinsip-prinsip syariah. Tak semua saham syariah itu masuk dalam kriteria sebagai saham blue chip. Begitu juga sebaliknya tak semua saham perusahaan syariah juga merupakan saham blue chip.

Cermati ciri-ciri saham blue chip agar tidak salah beli. Membeli saham blue chip bisa memberi ketenangan dalam berinvestasi saham yang memiliki risiko yang tinggi. Meski harganya cukup tinggi namun itu sebanding dengan benefitnya, yakni antara lain adanya pembagian keuntungan berupa dividen yang rutin dan secara berkala serta konsisten dibagikan. Juga keandalannya dalam menghadapi berbagai perkembangan kondisi ekonomi yang terjadi. Sehingga bisa aman dan stabil serta menguntungkan dalam jangka panjang. Meski mungkin kurang menarik bagi para trader saham, karena cenderung stabil pula harganya. Harga saham blue chip jarang turun, dan cenderung selalu naik dari waktu ke waktu meski dengan selisih harga yang tipis. Sedangkan trader saham keuntungannya didapat dari selisih harga yang besar. Dengan begitu maka trader saham biasanya akan lebih memilih saham yang yang lebih likuid dan aktif diperdagangkan. Meski agar tak terjebak salah beli, membeli saham gorengan maka bisa membeli saham blue chip juga, apalagi jika sedang turun harganya karena biasanya akan segera naik lagi harganya.