2 TIPS Mengajukan KPR Dengan Nama Orang Lain

Apakah Anda berniat untuk mengajukan hipotek atas nama orang lain, teman atau keluarga? Sebelum memutuskan, simak beberapa risiko dan tips berikut untuk meminimalisir masalah yang mungkin terjadi di kemudian hari. KPR atau Kredit Pemilikan Rumah merupakan salah satu solusi bagi Anda yang ingin segera menempatkan rumah pribadi namun tidak memiliki dana yang cukup.

Singkatnya, Anda bisa langsung menempatkan rumah dengan hanya membayar uang muka (DP) dan pemotongan per bulan untuk biaya rumah yang Anda pinjam dari bank beserta biaya bunga sesuai kesepakatan. Tentu saja, bank tidak hanya mengabulkan permintaan hipotek. Ada sejumlah syarat yang harus Anda penuhi, antara lain batasan usia, status kewarganegaraan, penghasilan tetap, sesuai ketentuan bank.

Bank berhak menolak permohonan KPR apabila calon debitur tidak memenuhi persyaratan yang digunakan bank untuk mengatasi potensi kredit macet. Dalam praktiknya, banyak calon debitur menghindari risiko ditolak oleh bank dengan mengajukan KPR atas nama kerabat, teman, atau sejenisnya.

Untuk meminimalisir munculnya masalah tersebut nantinya, ada baiknya Anda menerapkan beberapa tips berikut ini.

1 Buat Perjanjian ‘Pinjam Atas Nama’

Sebenarnya, Anda memiliki pilihan untuk mengajukan hipotek atas nama orang lain yang memiliki hubungan keluarga vertikal, seperti ibu dan anak kandung. Status keluarga ini harus dibuktikan melalui surat keterangan resmi dari notaris.

2 Proses Surat Kuasa dan PPJB ke Kantor Notaris

Sekalipun Anda telah mengeksekusi hipotek rumah Anda atas nama orang lain, segera proses Akta Perjanjian Jual Beli (PPJB) antara orang lain dan Anda dan Akta Kuasa bagi Anda untuk mengambil dokumen-dokumen yang dipegang oleh bank terkait dengan rumah jika sudah dinyatakan lunas. Orang lain sebagai pemegang hak tanggungan kemudian harus menandatangani surat pemberitahuan kepada bank mengenai peralihan hak atas tanah dan bangunan yang bersangkutan. Soalnya, orang lain tidak perlu lagi melunasi sendiri dan mengambil sertifikat aslinya, padahal cicilan dan sertifikatnya masih atas nama sendiri. Proses ini sering disebut dengan indirect over credit karena dilakukan di hadapan notaris.

Baca Juga:  Fantastis, Intip Besaran Gaji Notaris

Memiliki rumah merupakan impian banyak orang, dan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) merupakan salah satu cara untuk memiliki rumah idaman dengan metode kredit atau cicilan. Merujuk pada website Bank Indonesia, nasabah hanya perlu menyediakan dana untuk pembayaran di muka sebesar 30 persen dari harga rumah, dan sisanya dipenuhi oleh bank melalui KPR.

Namun, untuk bisa mengajukan dan mendapatkan persetujuan bank, ada sejumlah persyaratan yang harus disiapkan nasabah agar pengajuan KPR Anda berjalan lancar. Persyaratan pengajuan berikut juga berlaku untuk pelanggan yang belum menikah.

Syarat Pengajuan KPR

Salah satu syarat pengajuan KPR bagi yang belum menikah adalah memiliki penghasilan tetap dengan masa kerja minimal 2 tahun dan maksimal usia 45 tahun. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk mengajukan KPR, sebagai berikut:

  • Pelanggan harus terdaftar sebagai Warga Negara Indonesia (WNI)
  • Pendapatan tetap dengan masa kerja minimal 2 tahun
  • Usia minimal 21 tahun sampai dengan 45 tahun
  • Pembiayaan maksimal 80-90 persen dari nilai objek yang akan dibiayai

Dokumen Pribadi untuk Permohonan Hipotek

  • Fotokopi KTP
  • Fotokopi Kartu Keluarga
  • Fotokopi NPWP
  • Slip gaji 3 bulan terakhir
  • Fotokopi rekening koran 6 bulan terakhir
  • Fotokopi akta pendirian perusahaan atau izin usaha (khusus pengusaha)
  • Surat keterangan kerja (masa kerja minimal 2 tahun)
  • Lampiran asli SK pengangkatan pegawai atau kartu taspen ASN
  • Lampiran Ijazah Terakhir
  • Lampiran SPT PPh 21 (berlaku di beberapa bank)

Dokumen Unit Rumah

  • Fotokopi sertifikat tanah
  • Fotokopi IMB
  • Salinan perjanjian penjualan rumah dari penjual atau pengembang properti

Setelah nasabah melengkapi dokumen-dokumen di atas, selanjutnya bank akan melakukan pengecekan kelengkapan berkas. Selain pengecekan berkas, bank juga akan melakukan BI Checking profil nasabah. Dalam proses ini, waktu yang dibutuhkan sangat fleksibel.

Baca Juga:  Apa Pengertian Investasi Properti Dan Bagaimana Cara Memulainya

Dalam banyak kasus, kegagalan dalam mengajukan hipotek adalah karena rekam jejak masalah keuangan di masa lalu. Sebaiknya nasabah mengajukan ke bank yang sudah bekerjasama dengan developer karena pihak bank sudah terlebih dahulu mengecek legalitas developer. Jika rumah yang dipilih adalah rumah inden, maka hanya bank yang telah bekerjasama dengan pengembang yang dapat memberikan jaminan kredit untuk rumah tersebut.

Cara Mengajukan Hipotek

Berikut langkah-langkah dan cara mengajukan KPR bagi yang belum menikah: Setelah lolos pengecekan BI dan dianggap memenuhi syarat untuk mendapatkan pinjaman, bank akan melanjutkan proses pengajuan KPR. Dalam prosesnya, ada tahapan yang akan dilalui pelanggan, berikut tahapannya:

  1. Proses Penilaian

Penilaian adalah proses penentuan nilai jual suatu aset residensial. Jika nasabah membeli rumah melalui bank yang bekerja sama dengan pengembang, biasanya biaya appraisal tidak akan dikenakan lagi. Lain halnya jika nasabah membeli rumah bekas atau rumah baru di developer yang tidak bekerjasama dengan bank. Dalam hal ini, bank akan mengirimkan petugas untuk menilai harga aset residensial.

  1. Perhitungan Penawaran Bank

KPR adalah perjanjian utang jangka panjang, jadi perhatikan tingkat bunga, rincian tunggakan hipotek, dan syarat dan ketentuan lainnya. Setelah bank selesai menilai penilaian dan menyetujui pinjaman hipotek perumahan pelanggan, lihat penawaran yang diberikan oleh bank. Mengingat hipotek merupakan perjanjian utang dalam waktu yang cukup lama. Beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain:

Suku bunga

Bank biasanya menawarkan tingkat bunga yang cukup kompetitif bahkan flat, misalnya bunga flat 5 tahun atau bunga fluktuatif tapi di bawah 9 persen per tahun. Pastikan saja bunga yang ditawarkan flat atau jika fluktuatif berlaku maksimal berapa tahun. Bunga bank selalu mengacu pada BI rate, ketika BI rate tinggi, otomatis suku bunga KPR Anda juga akan naik. Namun, jika BI rate turun, bank tidak akan menurunkan suku bunga kredit. Hal ini terkait dengan kebijakan dan regulasi bank.

Baca Juga:  2 Simulasi Dasar KPR Sebelum Membeli Rumah

Syarat dan ketentuan

Ketentuan yang diberikan oleh bank harus dibaca dengan seksama. Pelanggaran terhadap kesepakatan akan dikenakan sanksi. Jika secara mencicil nasabah mampu melunasi sebagian atau seluruh utangnya sebelum masa kredit berakhir, maka bank akan mengenakan biaya penalti atas pelanggaran nasabah tersebut. Begitu juga saat Anda terlambat membayar cicilan. Berapa denda yang harus Anda bayar. Ketika Anda akan melamar, Anda dapat menanyakan hal ini kepada pihak bank. Perhatikan juga cara pembayaran cicilan, apakah langsung dipotong dari rekening Anda atau dengan cara transfer.

Rincian Biaya Hipotek

Selain denda, ada beberapa hal yang harus diperhitungkan pelanggan dengan cermat, seperti biaya PPN, biaya transfer sertifikat, dan biaya provisi. Provisi biaya adalah upah kepada bank karena pinjaman telah disetujui. Biaya ini sama dengan biaya administrasi, nominal biaya yang dikenakan kepada nasabah berbeda-beda antara satu bank dengan bank lainnya.

  1. Persetujuan Kredit oleh Bank

Bank akan menunjuk notaris setelah menyetujui pencairan hipotek nasabah. Pengangkatan notaris dimaksudkan untuk menerbitkan Surat Persetujuan Kredit atau SPK. Bank akan membebankan biaya jasa notaris kepada nasabah. Biaya Notaris meliputi jasa pengurusan dokumen Perjanjian Kredit (PK), Akta Jual Beli (AJB), biaya transfer, pajak, cek sertifikat, Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT), dan sebagainya. Karena bukan bank yang menentukan tarif notaris, nasabah bisa bernegosiasi dengan notaris untuk mencari jalan tengah kesesuaian harga jasa.